Rabu, 02 Januari 2013

Linguistik



Pada dasarnya linguistik adalah dasar dari segala pengetahuan bahasa. Orang dapat berbahasa dengan baik, jika mereka tahu mengenai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bahasa secara internal. Mualai dari huruf, kata, frase, kalimat, dan wacana. Semuanya saling berkaitan dan telah memiliki aturannya masing-masing. Linguistik secara umum dibagi menjadi beberapa bagian, masing-masing mempelajari seluk-beluk bahasa. Subdisiplin ilmu yang pertama adalah fonologi yaitu ilmu yang mempelajari bunyi. Morfologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang kata, sintaks yang mempelajari kalimat. Dan semantik yang mempelajari makna. Semua subdisiplin ilmu tersebut dipelajari secara sintaksis, dari yang paling dasar yaitu fonologi sampai sintaksis. Seperti yang kita ketahui, berbahasa tidak semudah yang dipikirkan. Berbahasa tidak sekedar mengucapakan kata dan mengeluarkannya dari mulut. Berbahasa memiliki tujuan untuk menyampaikan pesan kepada lawan bicara kita, tergantung pada seberapa jauh kita menguasai linguistik. Bagaimana kita mengucapkan kata-kata, bagaimana susun kalimatnya, dan bagaimana agar pendengar paham apa yang kita maksud.
Melihat sebetapa pentingnya linguistik dalam berbahasa, membuat kami membahas masalah linguistik secara lebih mendalam. Makalah ini secara garis besar membahas mulai dari fonologi, morfologi, dan sintaksis. Pembahasan materi dilakukan secara sistematis agar dapat dimengerti dengan baik.
CABANG-CABANG LINGUISTIK
A.    Fonologi
Fonologi merupakan bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. (Kamus besar Bahasa Indonesia edisi ke 3, 2008: 320). Fonologi merupakan biadang linguistik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtuhan bunyi-bunyi bahasa. Yang secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi, dan logi yaitu ilmu. Menurut Hierarki suatu yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik. Sedangkan fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna. (Abdul Haer, : 102 )
1.      Fonetik
Fonetik  adalah bidang linguistik tentang pengucapan (penghasilan) bunyi ujar (Kamus besar Bahasa indonesia edisi 3, 2008 : 319). Menurut Malmberg, Verhaar, Ramelan, Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki bunyi bahasa tanpa melihat fungsi bunyi itu sebagai pembeda makna dalam suatu bahasa (Marsono, 2008: 1 ).  Menurut  urutan proses terjadinya bunyi bahasa, fonetik dibagi atas tiga jenis yaitu fonetik artikulasi  atau disebut juga fonetik organik atau fonetik fsiologis yaitu mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Fonetik akustik yaitu mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam. Sedangkan fonetik auditoris yaitu mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita. (Abdul Haer, : 103)
a.       Alat-alat ucap
Alat yang digunakan untuk menghasilkan bunyi bahasa mempunyai fungsi utama lain yang bersifat biologis, misalnya paru-paru untuk bernapas, lidah untuk mengecap, dan gigi untuk mengunyah. Namun, secara kebetulan alat-alat itu digunakan juga untuk berbicara. Alat-alat yang digunaka untuk memahami bagaimana bunyi itu diproduksi yaitu:
1)      Paru-paru (lung)
2)      Batang tenggorok (trachea)
3)      Pangkal tenggorok (larynx)
4)      Pita suara (vocal cord)
5)      Krikoid (cricoid)
6)      Tiroid(thyroid) atau lekum
7)      Aritenoid (arythenoid)
8)      Dinding rongga kerongkongan (wall of pharynx)
9)      Epiglotis (epiglottis)
10)  Akar lidah (root of the tongue)
11)  Pangkal lidah (back the tongue, dorsum)
12)  Tengah lidah (middle of the tongue, medium)
13)  Daun lidah (blade of the tongue, laminum)
14)  Ujung lidah (tip of the tongue. apex)
15)  Anak tekak (uvula)
16)  Langit-langit lunak (soft palate, velum)
17)  Langit-langit keras (hard palate, palatum)
18)  Gusi, lengkung kaki gigi (alveolum)
19)  Gigi atas (upper teeth, dentum)
20)  Gigi bawah (lower teeth, dentum)
21)  Bibir atas (upper lip, labium)
22)  Bibir bawah (lower lip, labium)
23)  Mulut (mouth)
Bunyi yang terjadi pada alat ucap seperti bunyi gigi atau binyi bibir disebut bunyi dental dan bunyi labial. Bunyi apikodental yaitu gabungan antara ujung lidah dengan gigi atas, Labiodental yaitu gabungan antara bibir bawah dengan gigi atas, dan laminopalatal yaitu gabungan antara daun lidah dengan langit-langit keras.
b.      Proses Fonasi
Fonasi merupakan anak suara yang dihasilkan oleh pangkal tenggorokan. Terjadinya bunyi bahasa pada umumnya yaitu:
1)      Dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok, yang di dalamnya terdapat pita suara.
2)      Kemudian suara keluar dan posisi pita suara terbuka entah melalui rongga mulut, rongga hidung .
Berhubungan dengan hambatan pada pita suara, ada 4 macam posisi pita suara:
1)      Pita suara terbuka lebar
Dengan posisi yang demikian maka tidak akan terjadi bunyi bahasa, karena posisi ini adalah posisi untuk bernafas secara normal
2)      Pita suara agak terbuka lebar
Posisi ini akan menghasilkan bunyi bahasa yang disebut bunyi tak bersuara (voiceless)
3)      Pita suara terbuka sedikit
Posisi ini akan menghasilkan bunyi yang disebut bunyi bersuara  (voice)
4)      Pita suara tertutup rapat-rapat
Posisi ini akan menghasilkan bunyi hamzah atau glotal stop.
Tempat bunyi bahasa terjadi atau dihasilkan disebut tempat artikulasi. Proses terjadinya artikulasi dan alat-alat yang digunakan disebut alat artikulasi, atau lebih lazim disebut artikulator. Dalam proses artikulasi ini, biasanya terlibat 2 macam artikulator, yaitu artikulator aktiif yang merupakan alat ucap yang bergerak atau digerakkan, misalnya bibir bawah, ujung lidah, dan daun lidah. Sedangkan artikulator pasif alat ucap yang tidak dapat bergerak, atau yang didekati oleh artikulator aktif, misalnya bibir atas, gigi atas, dan langit-langit keras.
c.       Klasifikasi Bunyi
Pada umumnya bunyi bahasa pertama-tam dibedakan atas vokal dan konsonan. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit. Bunyi konsonan terjadi setelah arus udara melewati  pita suara yang terbuka sedikit atau agak lebar, diteruskan ke rongga mulut atau rongga hidung dengan mendapat hambatan di tempat-tempat artikulasi tertentu.  
1)      Klasifikasi vokal
Bunyi vokal dikelompokkan berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah bisa bersifat vertikal dan bisa bersifat horizontal. Secara vertikal dibedakan menjadi vokal tinggi misalnya /i/ dan /u/, vokal tengah misalnya bunyi /e/, dan vokal rendah misalnya bunyi /a/. Secara horizontal dibedakan atas vokal depan misalnya bunyi /i/ dan /e/, vokal pusat misalnya / /, dan vokal belakang, misalnya bunyi /u/ dan /o/. Kemudian menurut bentuk mulut dibedakan menjadi vokal bundar dan vokal tak bundar. Sikatakan vokal bundar karena bentuk mulut membundar ketika mengucapkan vokal itu, misalnya vokal /o/ dan /u/. Dan dikatakan vokal tak bundar karena bentuk mulut tidak bundar, melainkan melebar, misalnya vokal /i/ dan /e/.
2)      Diftong atau vokal rangkap
Ciri difton ialah waktu diucapkan posisi lidah yang satu dengan yang lain saling berbeda. Perbedaan itu menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, serta strukturnya (jarak lidah dengan langit-langit). Namun yang dihasilkan bukan bukan dua bunyi, melainkan hanya satu bunyi karena berada dalam satu silabel, misalnya /ai/ dalam kata rantai, /au/ dalam kata imbau.
3)      Klasifikasi konsonan
Bunyi konsonan dibedakan berdasarkan tiga kriteria yaitu, posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi.
a)      Berdasarkan Pita suara dibedakan menjadi bunyi bersuara dan bunyi tidak bersuara. Bunyi bersuara terjadi apabila pita suara hanya terbuka sedikit, sehingga terjadilah getaran pada pita suara itu. Yang termasuk bunyi bersuara anata lain bunyi /b/, /d/, /g/, dan /c/. Bunyi tidak bersuara terjadi apabila pita suara terbuka agak lebar, sehingga tidak ada getaran pada pita suara itu. Yang termasuk bunyi tidak bersuara anatara lain /s/, /k/, /p/, dan /t/. 
b)      Berdasarkan Tempat artikulasi antra lain:
(1)   Bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belh bibir. Bibir bawah merapat padabibir atas. Hurufnya : /b/, /p/, dan /m/.
(2)   Labiodental, yaitu konsonan yang terjadi pada gigi bagian bawah dan bibir atas, gigi merapat pada bibir atas. Hurufnya : /f/ dan /v/.
(3)   Laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi, daun lidah menempel pada gusi. Hurufnya : /t/ dan /d/
(4)   Dorsovelar, yakni konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atau langit-langit lunak. Hurufnya : /k/ dan /g/.
c)      Berdasarkan cara artikulasinya, artinya bagaimana gangguan atau hambatan yang dilakukan terhadap arus udara itu, dapat dibedakan melalui konsonan:
(1)   Hambatan (letupan, plosif, stop), artikulator menutup sepenuhnya aliran udara , sehingga uadara mampet di belakang tempat penutupan itu. Kemudian penutupan itu dibuka secara tiba-tiba, sehingga menyebabkan terjadinya letupan. Hurufnya: /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, dan /g/
(2)   Geseran atau frikatif, artikulator aktif mendekati artikulator aktif mendekati artikulator pasif, membentuk cela sempit, sehingga udara yang lewat mendapat gangguan di cela itu. Hurufnya: /f/, /s/, dan /z/.
(3)   Paduan atau frikatif, artikulator aktif menghambat sepenuhnya aliran udara, lalu membentuk celah sempit dengan artikulator pasif. Hurufnya: /c/, dan /j/.
(4)   Sengauan atau ngasal, artikulator menghambat sepenuhnya aliran udara melalui mulut, tetapi membiarkannya keluar melalui roongga hidung dengan  bebas. Hurufnya: /m/, dan /n/.
(5)   Getara atau trill, getaran bunyi itu terjadi berulang-ulang. Hurufnya: /r/.
(6)   Sampingan atau lateral, artikulator aktif menghambat aliran udara pada bagian tengah mulut, lalu membiarkan udara keluar melalui samping lidah. Hurufnya: /i/.
(7)   Hampiran atau aproksimal, artikulator aktif dan pasif membentuk ruang yang mendekati posisi terbuka seperti dalam pembentukan vokal, tetapi tidak cukup sempit untuk menghasilkan konsonan geseran. Hurufnya: /w/, dan /y/.
d.      Unsur Suprasegmental
Suprasegmental merupakan ilmu bahasa yang berhubungan dengan segmen ujaran atau bunyi (fonem), yaitu nada, tekanan, sendi, intonasi dan juga merupakan fonem yang tidak dapat membentuk kata tetapi membedakan makna kata (misalnya tekanan).
1)      Tekanan : suatu bunyi segmental yang diucapkandengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, dan pasti dibarengi dengan tekanan keras. Sebaliknya sebuah bunyi segmental yangg diucapkan dengan arus udara yang tidak kuat sehingga amplitudonya menyempit, dan pasti dinarengi dengan tekanan lunak.
2)      Nada : berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Bila suatu bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, tentu akan disertai dengan nada yang tinggi, sebaliknya kalau diucapkan dengan frekuensi getaran yang rendah, tentu akan disertai juga dengan nada rendah.
3)      Jeda : berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Disebut jedah karena adanya hentian itu, dan disebut persendian karena di tempat itulah terjadinya persambungan antara segmen yang satu dengan yang lain. 
2.      Fonemik
Menurut kamus besar bahasa indonesia edisi 2 fonemik merupakan ilmu bahasa (lingua) tentang sistem fonem suatu bahasa, prosedur untuk menentukan fonem suatu bahasa. Sedangkan fonem itu sendiri adalah lingua suatu bunyi yang menunjukkan kontraks makna, (misal, /h/), karena membedakan makna kata misalnya kata harus dan arus. /b/ dan /p/ merupakan 2 fonem yang berbeda karena baru dan paru.
a.       Identifikasi Fonem
Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari sebuah satuan bahasa, biasanya disebut kata, lalu membandingkan dengan satuan bahasa yang pertama. Kalau ternyata kedua satuan bahasa itu berbeda maknanya, maka berarti bunyi tersebut adalah fonem, karena dia bisa atau berfungsi membedakan makna kedua satuan bahasa itu.
b.      Alofon
Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem seperti bunyi /t/ dan /th/ untuk fonem /t/ di atas disebut alofon.


B.     Morfologi
Morfologi adalah bagian linguistik yang mempelajari morfem. Morfologi mempelajari dan menganalisis struktur, bentuk, klasifikasi kata-kata. Dalam linguistic bahasa Arab morfologi ini adalah tashrif yaitu perubahan satu bentuk (asal) kata menjadi bermacam-macam bentukan untuk mendapatkan makna yang berbeda, yang tanpa perubahan ini, makna yang berbeda itu akan terlahirkan. Morfologi merupakan ilmu yang mempelajari kata atau struktur kata atau pembentukan kata (kamus besar Bahasa Indonesia edisi 3). Dalam ilmu linguistik, morfologi adalah satuan – satuan dasar bahasa yang gramatikal. Sebagai contoh kita memakai kata tertidur.  Kata ini terdiri atas dua “morfem”, yaitu ter-dan tidur.  Jadi kata “tertidur” mempunyai struktur “internal” dengan bagiannya ter-dan tidur. Jika kita tidak memakai kata ter- dalam tertidur dan hanya memakai kata “tidur” maka kata itu terdiri atas satu morfem saja yaitu tidur.  Kata tertidur itu disebut “polimorfemis” (yang berarti terdiri atas lebih dari satu morfem atau juga lebih dari dua atau dst.), sedangkan kata ter-  itu disebut monomorfemis (yang berarti terdiri atas satu morfem saja). Morfem adalah unsur-unsur yang terkecil dan masing-masingnya mempunyai maknadalam tutur sebuah bahasa. (Hocket. 123)
1.      Morfem
Morfem adalah unsur-unsur yang terkecil dan masing-masingnya mempunyai maknadalam tutur sebuah bahasa.(hocket hlm.123). morfem diklasifikasikan sebagai berikut
a.       Morfem bebas dan terikat
Kata adalah satuan atau bentuk “bebas” dalam tuturan. Bentuk bebas secara morfemis (Morfem  bebas) adalah  morfem yang dapat berdiri sendiri, artinya tidak membutuhkan bentuk lain yang digabungkan dengan morfem itu dan dapat dipisahkan dari bentuk-bentuk “bebas” lainnya walaupun posisinya berada didepan atau dibelakang, dalam tuturan. Misalnya makan, bagus, rumah, dan pulang adalah yang termasuk morfem bebas. Morfem terikat  adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain. Bentuk-bentuk seperti juang ,henti, gaul adalah termasuk morfem terikat .
b.      Morfem utuh dan morfem terbagi
Morfem utuh adalah semua morfem yang dibicarakan dalam morfem bebas. Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua bagian yang terpisah. Contohnya dalam kata perbuatan terdiri dalam satu morfem yang utuh, yaitu (buat) dan morfem terbagi yaitu (per-/-an)
c.       Morfem  segmental dan suprasegmental
Morfem segmental  adalah morfem yang berwujud bunyi. Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur supra segmental, seperti tekanan, bunyi, dan nada.
d.      Morfem nol
Morfem nol adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (atau unsur supra segmental), melainkan berupa kekosongan. Misalnya dalam bahasa inggris:
Bentuk tunggal                                        Bentuk jamak
Book                                 -                       Books
Sheep                                -                       Sheep
Bentuk tunggal untuk Book adalah book dan jamaknya adalah Books, sedangkan tunggal untuk Sheep adalah Sheep dan jamaknya adalah Sheep. Dalam bentuk jamak kata Books terdiri atas dua morfem yaitu (book) dan (-s). Sedangkan bentuk jamak dalam kata sheep adalah sheep yang berarti satu morfem saja (sheep) atau morfem nol.
e.       Morfem bermakna leksikal dan morfem tidak bermakna leksikal
Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu berproses duludengan morfem lain. Misalnya, (kuda), (pergi), (hari), (merah) adalah morfem bermakna leksikal. Morfem tak bermakna leksikal adalah morfem yang tidak mempunyai makna pada dirinya sendiri. Misalnya, morfem-morfem afiks seperti, (ber-), (me), dan (ter).
2.      Kata
Kata adalah satuan atau bentuk”bebas” dalam tuturan. Para bahasawan member pengertian terhadap kata berdasarkan arti dan ortografi. Menurut mereka kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian. Atau kata adalahderetan huruf yang diapit oleh dua buah spasi, dan mempunyai satu arti.
3.      Proses morfemis
Proses morfemis adalah proses pembentukan kata bermorfem jamak baik derivatif maupun inflektif. Proses inilah disebut morfemis karena proses ini bermakna dan berfungsi sebagai pelengkap makna leksikal yang dimiliki oleh sebuah bentuk dasar. Proses morfemis ini dibedakan atas :
Proses morfemis afikasi Adalah proses pembumbuhan afiks pada sebuah dasar  atau bentuk dasar
Proses pergantian, Proses pergantian dapat disebut pula dengan perubahan dakhil. Dalam proses ini banyak dijumpai dalam bahasa inggris.  Dalam bahasa indonesia proses ini dikenal pula dalam contoh yang tidak begitu produktif, biasanya kata-kata serapan.
Proses duplikasi dalam proses ini masih memerlukan beberapa pembicaraan khusus untuk bahasa   indonesia.
a.       Proses kosong dalam proses ini tidak mengalami proses morfem, misalnya dalam bahasa inggris untuk menyatakan jamak atau pengertian yang lain ada bentuk-bentuk dalam bahasa inggris yang tidak mengalami proses sama sekali.
Book – books
Dog   -  dogs
Akan tetapi, proses ini tidak terjadi pada morfem-morfem bebas bahasa inggris seperti: sheep- sheep, yang sama bentuknya dengan pernyataan tunggal dan jamak
b.      Proses suplesi. Proses suplesi dapat dipandang sebagai satu proses perubahan internal yang ekstrem. Dalam proses ini ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak. Misalnya, bentuk went, be, am, is, are, was, were.
c.       Proses morfemis suprasegmental, untuk beberapa bahasa tertentu ciri-ciri prosodi atau suprasegmental bersifat morfemis.
4.      Morfofonemik
Morfofonemik adalah berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis baik afiksasi maupun komposisi. Misalnya :
 - ia melarikan gadis itu ke Jakarta
 - mereka membicarakan masalah bangunan
 - kejujuran mendatangkan ketentraman dalam jiwa
Jika bentuk-bentuk seperti melarikan, membicarakan, mendatangkan diuraikan atas morfem – morfem makaterjadilah uraian seperti: konfiks me-kan dan lari , mem-kan dan bicara, men-kan dan datang. Walaupun me-kan, men-kan, dan men- kan berbeda, namun fungsi distribusi sintaksis, dan maknanya sama.

C.     Sintaksis
1.      Pengertian sintaksis
Morfologi dan sintaksis adalah bidang tataran linguistik  yang secara tradisional di sebut tata bahasa atau gramatika. Kedua bidang tataran itu memang berbeda, namun seringkali batas antara keduanya menjadi kabur karena pembicaraan bidang yang satu tidak dapat di lepaskan dari yang lain. Oleh karena itu muncul istilah  morfosintaksis yang merupakan gabungan dari morfologi dan sintaksis, untuk menyebut kedua bidang itu sebagai satu bidang pembahasan. Meskipun demikian, orang biasa membedakan kedua tataran itu dengan pengertian : morfologi membicarakan struktur internal kata, sedangkan sintaksis membicarakan kata dalam hubungan dengan kata lain, atau unsur-unsur lain sebagai suatu satuan ujaran.  Hal ini sesuai dengan asal usul kata sintaksis itu sendiri, yang berasal dari bahasa yunani yaitu sun  yang berarti ‘dengan’ dan kata tattein yang berarti ‘menempatkan’. Jadi, secara etimologi istilah itu berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Dalam linguistik sintaksis (dari bahasa Yunani Kuno “ouv-syn-“ “bersama”. Dan taEic taxis”, “pengaturan”) adalah ilmu mengenai prinsip dan peraturan untuk membuat kalimat dalam bahasa alami. Selain aturan ini, kata sintaksis juga digunakana untuk merujuk langsung pada peraturan dan prinsip yang mencakup struktur kalimat dalam bahasa apapun.
Kajian sintaksis meliputi :
a.       Pengertian frase
Frase lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif (hubungan antara kedua unsur yang membentuk frase tidak berstruktur subjek – predikat – objek), atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis didalam kalimat.
Jenis Frase
1)     Frase eksosentrik adalah frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya.
2)     Frase endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Artinya salah satu komponennya dapat menggantikan perilaku seluruhnya.
3)     Frase koordinatif  adalah frase yang komponennya pembentukannya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif.
4)     Frase apositif adalah frase koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya, oleh karena itu urutan komponen yang dapat dipertukarkan.
b.      Klausa adalah satuan gramatikal yang terdiri dari predikat, baik disertai subjek, objek, pelengkap, dan keterangan.
c.       Kalimat adalah alat interaksi dan kelengkapan pesan atau isi yang akan di sampaikan, di definisikan sebagai sususnan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap. Sedangkan dalam kaitannya dengan satuan-satuan sintaksis yang lebih kecil (kata, frase, dan klausa), kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang  biasanya berupa klausa atau satuan bahasa yang terdiri dari dua kata atau lebih yang mengandung satu pengertian dan mempunyai pola intonasi akhir. Dalam pembahasan sintaksis yang biasa dibicarakan adalah : Struktur sintaksis , mencakup masalah fungsi, kategori, dan peran sintaksis; serta alat-alat yang di gunakan dalam membangun struktur itu. Hal-hal yang berkenaan dengan sintaksis, seperti masalah modus, aspek, dan sebagainya.
2.      Struktur sintaksis
Secara umum struktur sintaksis itu terdiri dari susunan subjek (S), predikat (P), objek (O), dan ketereangan (K). Menurut Verhaar (1978) fungsi-fungsi sintaksis itu yang terdiri dari unrsur-unsur S, P, O, dan K itu merupakan “kotak-kotak kosong” atau “tempat-tempat kosong” yang tidak mempunyai arti apa-apa karena kekosongannya. Tempat-tempat kosong itu akan di isi oleh sesuatu yang berupa kategori dan memiliki peranan tertentu.
3.      Kata sebagai satuan sintaksis
Sebagai satuan terkecil dalam sintaksis, kata berperan sebagai pengisi fungsi sintaksis, fenanda kategori sintaksis, dan perangkai dalam penyatuan satuan-satuan atau bagian-bagian dari satuan sintaksis. Kata sebagai pengisi satuan sintaksis, harus dibedakan antara dua kata yaitu kata penuh dan kata tugas. Kata penuh adalah kata yang secara leksikal mempunyai makna, mempunyai kemungkinan mengalami proses morfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat berdiri sendiri sebagai sebuah satuan-satuan. Yang termasuk kata penuh adalah kata-kata kategori nomina, verba, adjecktiva, akferbia, dan numeralia. Misalnya masjid memaliki makna tempat ibdah orang islam. Sedangkan kata tugas adalah kata yang leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup, dan di dalam peraturan dia tidak dapat berdiri sendiri. Yang termasuk kata tugas adalah kata-kata kategori preposisi dan konjuksi. Misalnya dan tidak mempunyai makna leksikal untuk menggabungkan menambah konstituen. Kata-kata yang termasuk kata penuh mempunyai kebebasan yang mutlak atau hampir mutlak sehingga dapat menjadi pengisi fungsi-fungsi sintaksis. Sedangkan kata tugas mempunyai kebebasan yang terbatas, selalu terikat dengan kata yang berada di belakangnya (untuk preposisi), atau berada di sampingnya (untuk posposisi) dan dengan kata-kata yang dirangkainya (untuk konjuksi).

Sumber :
1.      Buku Fonetik. Marsono. 2008
2.      Buku Dasar-Dasar Analisis Sintaksis. Erlangga.  J,D Parere. 2009.  
3.      Buku Linguistik Umum. Abdul Chaer. 1993.
4.      Pengantar Linguistik Umum.  Ferdinan De Sauaaure,. 1973.

0 komentar:

Poskan Komentar